Search and Hit Enter

Aku Menjadi Tahu

MENGANTARKAN detik ini, aku menjadi tahu, terlalu banyak hal yang semestinya dipikir dan dilakukan. Setidaknya, aku mesti berkawan dengan orang-orang yang merasa bahwa hal-hal itu memang penting.

Kemarin, aku bersua seorang lelaki paruh baya tanpa kaki membersihkan jembatan penyeberangan. Bagiku, ia tak hanya butuh recehan yang tak mudah. Bagiku, ia berpikir, andai tak ada yang berulur tangan, barangkali jasa membersihkan jembatan sudah cukup membuatnya berarti.

Kemarin, seorang cewe seumuranku bicara di HP dengan bahasa Inggris. Ia keturunan Tionghoa. Bagiku, ia mungkin berpikir, tak ada tempat bagi rasnya. Jadi, andai suatu saat negeri ini tak lagi ramah, ia dapat ke mana saja, di seluruh dunia, karena kemampuan berbahasa itu. Bagiku, ia hidup di tengah kepastian dengan keberanian yang was-was, tapi ia sanggup melewatinya.

Kemarin, seorang kawan mendesah kuat, bahwa politik sangatlah berat. Bagiku, ia memang tengah beradaptasi dengan karut marut kondisi republik ini, dengan kemampuannya yang mungkin tak sekuat dulu. Bagiku, ia tampak bersemangat lebih, dan mengajariku untuk seperti itu, meski semua yang akan ia lakukan jelas belum tentu berhasil.

BERAKRAB dengan desahanku yang terakhir, aku menjadi tahu, hidupku semakin tidak aku pahami. Setiap saat aku kebingungan, tapi aku nyaman dengannya. Karena, aku pasti akan cepat berserah diri. Inginku, aku selalu siap mati. Kalau aku semakin kalkulatif, takutnya aku menjadi cepat lupa diri. Bila aku selalu nihil, justru aku akan merasa selalu ingin dekat dengan Tuhan.

Kemarin, aku berpikir, bagaimana kalau ayah atau ibuku meninggal salah satunya. Bagiku, aku akan limbung. Sebab, meski lebih banyak berjauh ria, tapi praktis, aku tak punya orang lain. Maksudku, semua saudaraku tak merasa perlu berdekat pasti dengan keluargaku, entah karena apa. Bagiku, hidupku menjadi timpang, karena tak ada lagi persembahan duniawi. Aku lakukan semua hal di dunia ini, tapi tak ada alokasi hasil. Aku pun bersyukur, bila sekarang aku merasa dibutuhkan mereka. Sebab, tanpa itu, aku malahan tak merasa hidup. Aku hanya ingin merasa, bila pun ada salah satu dari kita yang lebih dahulu pergi, tetap saja semua akan baik-baik saja.

MERASAKAN tatapanku kini, aku menjadi tahu, banyaknya hal yang hendak aku pertanggungjawabi justru semakin mendekatkanku pada Tuhan. Sebab, sejauh yang aku bisai, sejauh itu pula keberserahanku pada-Nya. Aku menjadi tenteram. Aku menjadi semakin bersemangat, meski tak ada lagi yang bisa aku garansikan… untuk apa pun.