Search and Hit Enter

Agrisantosa

“Semua posisi boleh diatur fleksibel. Tapi kalau Perusahaan, aku tetap percayakan sama dia. Udah lah. Hasilnya bisa maksimal,” sapa pembuka obrolan telah terdengar.

Dari tadi, kawanku yang ini sangat berapi-api. Sejak lama, ia memang kerasukan Ekonomi Kerakyatan-nya Hatta. Koperasi menjadi ikon gerakan Hatta untuk mewujudkan revolusi sosial pascamerdeka. Wajar kalau kemudian, kawanku merasa perlu berjibaku untuk mengantarkan semua komunitas yang dapat ia rangkul ke ranah perkoperasian. Pasalnya, konstitusional dan menjalankan amanat founding fathers. Sungguh nasionalis.

Sebenarnya, aku tak terlalu paham pada semua hal yang ia anjurkan. Aku hanya merasa nyaman dengan kenekatannya menjajal banyak hal. Entah berbanding lurus atau tidak, perawakannya yang kecil itu sebenarnya lebih mirip Vietcong. Orang-orang model dia pernah membuat tentara-tentara AS trauma pada Vietnam. Mengapa ia serius pada urusan produksi dari hulu hingga hilir? Aneh. Seingatku, ia juga Sarjana Hukum. Lebih tak nyambung lagi.

Ide dasarnya sederhana. Ekonomi itu hanya soal transaksi. Transaksi itu soal kepercayaan. Bila ingin membangun ekonomi yang kuat, maka buatlah transaksi sebanyak dan sebaik mungkin. Modal dasarnya bukan uang, alat produksi, atau aset; tapi kepercayaan sosial. Maka koperasi adalah pilihan strategisnya.

Rumus lebih generalnya, keadilan sosial tidak akan terwujud tanpa egalitarianisme peran; mengakui semua potensi manusia sama. Tanpa ini, ketidakadilan akan terjadi, lantaran perilaku diskriminasi. Nah, egalitarianisme itu harus bersanding dengan sikap saling percaya di antara anggota masyarakat.

Dan sore itu, semua mimik yang ada di sana berusaha mengerti. Silang sengkarut pemahaman diselesaikan dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kawanku yang ini selalu punya cara untuk menenangkan khalayak, bila rencana seperti akan gagal. Ia merilis banyak kemudahan, untuk meyakinkan audiens bahwa semua hanya soal usaha dan ketekunan. Semua hal akan menjadi mungkin, bila awalnya itu dianggap mungkin.

Hingga hampir gelap, keadaan semakin menyenangkan. Karena lusinan kepala kemudian menyepakati komitmen aneh. Mereka akan berpatungan uang dan mencoba simulasi bisnis ala koperasi. Tentu saja termasuk aku. Argumen tentang masyarakat sosial yang saling percaya mencengangkanku dan meniris ketakutanku akan kerakusan manusia yang satu atas manusia lain.

Pilihan pun jatuh pada budidaya kelinci. Binatang imut lucu itu diprioritaskan bukan karena kalkulasi data yang berujung pada tren penjualan tertinggi. Pun bukan karena perencanaan bisnis yang mumpuni; based on survei dan riset. Kelinci meroket oleh deskripsi kawanku tadi. Ia bahkan lebih dari yakin akan berhasil, ketimbang siapa pun di ruangan itu.

Menjelang Magrib, seorang lagi datang. Kali ini, sendirian. Ia satu-satunya perempuan di sini.

“Aduh. Maaf… maaf. Aku ketiduran, trus tadi antar kerudung dulu. Jadi, ke sininya agak terlambat,” sapanya mendamaikan isi kepala yang telanjur tergurat kemandirian ekonomi, sosial, dan politik.

Seperti tak ada masalah. Kawanku tadi bahkan tak komat-kamit. Ia sangat maklum dan mewajarkan semuanya. Sebuah garansi yang tak tanggung-tanggung. Berhubung aku tak tahu menahu, terang saja tak ada gugatan yang berlaku. Aku menerima kejadian ini, apa adanya… taken for granted dan tanpa reserve.

Pun adrenalinku malas meninggi. Aku menyetujui ketimpangan ini tanpa alasan berarti. Aku menanam percayaku pada sesuatu yang tak aku mengerti. Ada yang menyebutnya, aksiomatis. Kelakarku bahkan membenarkan semuanya. Benar-benar berdamai dengan kenyataan. There’s no rule, anymore.

“Oke. Kalau semua sudah setuju, tinggal dijalankan. Aku pamitan dulu mau ke Morotai. Sorry kalau tidak bisa menemani,” ujar kawanku menutup pidatonya.

Hadirin melongo…. Nice job, I think. Innocent, much.