Search and Hit Enter

Truly, I don’t Like Politic

Ilustrasi Political Studies. (Foto: Umanitoba)
Ilustrasi Political Studies. (Foto: Umanitoba)

Sejak masuk HMI, semester 2 dulu, atau Maret 2000, aku tak pernah tertarik tradisi perpolitikan di organisasi yang kata orang, sangat politis ini. Buku pertama yang aku baca adalah Leveraged Buy-Out. Buku ini berisi strategi jitu akuisisi perusahaan dengan utang. Tokoh-tokoh LBO-nya, Jerry Kohlberg dan Henry Kravis, masih aku ingat. Ini referensi ekonomi, karena aku mahasiswa ekonomi. Ketika itu, aku hanya berkeinginan untuk tahu seluk-beluk ekonomi AS, yang disebut-sebut sebagai kampiun kapitalisme.

Tulisan pertamaku di Pabelan Pos—media kampus yang akhirnya aku peristri—tentang kegelisahan batin saat aku beranjak dewasa. Semacam renungan, mengapa Tuhan menciptakan kriteria muhrim dan tidak muhrim. Ketika itu, aku ingin mengorek sisi jiwaku yang haus sensualitas, tapi aku juga berhadap-hadapan dengan norma-norma yang banyak membingungkanku.

Artikel pertamaku di Bengawan Pos, salah satu koran Solo yang akhirnya gulung tikar, adalah tentang ‘Sekolah dan Kesempatan Kerja’. Ketika itu, aku ingin mereka-reka apa yang akan terjadi pasca aku lulus, hingga aku berusaha menjelaskan semua risauku kepada khalayak melalui media.

Forum pertama yang aku moderatori di Komisariat HMI adalah diskusi filsafat. Ketika itu, tak sampai 10 orang yang hadir. Aku menjadi terbiasa dengan kalimat-kalimat paradoks, yang menurut beberapa orang, tak baik dipelajari itu. Aku mulai berkenalan dengan Thales, Heraclitos, Plato, Plotinus, hingga Ibnu Rusyd.

Debat pertamaku adalah tentang utang luar negeri Indonesia. Meski aku tak benar-benar paham konstelasi makroekonomi yang tengah terjadi ketika itu, tapi aku telah kerasukan neostrukturalisme. Aku mulai akrab dengan Hatta, Sritua Arif, Sri Edi Swasono, hingga Revrisond Baswir. Pemikiran-pemikirannya, yang aku maksud. Menurutku, bangsa-bangsa Barat tak adil.

Buku pertama yang aku tulis justru tentang semua keraguanku atas perempuan. Ketika itu, aku persembahkan untuk salah seorang perempuan yang aku kagumi. Aku tak pernah tertarik padanya, tapi aku betah bicara dengannya. Tulisan-tulisanku mengurai kesulitanku memahami makhluk Tuhan yang memang misterius itu.

Aku pernah menjadi Ketua Umum HMJ Ekonomi Pembangunan FE UMS, tapi aku tak bernafsu untuk melanjutkannya ke jenjang BEM. Menurutku, BEM tak merepresentasikan grass-root. Ia koordinatif, dan aku tak tertarik. Apalagi, BEM sering tampak sebagai organ yang hanya untuk gagah-gagahan.

Aku pernah menjadi Pemimpin Umum LPM Pabelan UMS, tapi aku tak berkeinginan mendongkrak popularitasku ke arah kursi kepresidenan mahasiswa UMS. Bagiku, menjadi mesin wacana di tataran student government lebih dari cukup untuk berkontribusi terhadap semua karut-marut dunia pendidikan, juga gerakan mahasiswa.

Aku pernah menjadi Sekretaris Umum HMI Cabang, tapi aku tak tertarik intrik politik ke kampus, daerah, atau negara. Aku larut dalam desain perkaderan, dan cita-cita keseimbangan dunia dari dan oleh kader umat dan bangsa. Aku lebih suka mengkomposisikan buah pikir Ali Syariati, Murtadha Muthahhari, Kuntowijoyo, Cak Nur, Eep Saefullah Fattah, hingga Francis Fukuyama dan Herbert Feith. Aku memasang titik-titik skala prioritas itu di tembok kamarku: pendidikan, kemiskinan, demokrasi, dan militer.

Lihat, sebenarnya aku tak pernah tertarik dengan politik. Bila kemudian aku berusaha menulis tentang politik, lantaran hingga hari ini, aku masih berkubang dengan akses dan konstelasi politik. Tapi aku beryakin, hingga semua telah diketengahkan, barangkali aku lebih tertarik bernaung di perdesaan dengan penduduk berdedikasi dan sangat mencintai daerahnya, berikut perilaku ningrat yang insan kamil dan berkebangsaan.

Jakarta, 05 Maret 2008