Search and Hit Enter

Selisik Aurat

Aku suka Frida Lidwina dan Wanda Hamidah. Mereka smart, punya dedikasi, bervisi kebangsaan, dan istri yang baik. Penampilan mereka sejuk, meski tak berjilbab. Aku suka Jane Austen, penulis novel Pride &.Prejudice berkebangsaan Inggris. Ia mengabarkan pentingnya kebebasan memilih bagi perempuan, tapi ia sangat menghargai kesopanan dan menahan diri. Ketika itu, kebanyakan orang Inggris memeluk Protestan. Aku juga suka Inneke Koesherawati. Ia berani berbeda dan buatku, itu perjuangan atas kebebasannya.

Berdandannya perempuan bagiku adalah identitas. Dan setiap orang tentu berhak mengabarkan identitasnya kepada publik. Perkara kemudian itu akan melahirkan stereotipe tentang sesuatu, seperti seronok, mesum, atau murahan, aku lebih tertarik untuk melihatnya lebih dekat (baca: berpikir lebih dalam) persoalan ini, daripada memikirkan label-label sosial itu. Karena, identitas yang mereka bangun, jelas diperuntukkan pada eksistensi diri mereka sendiri, bukan untuk orang lain.

Aku tidak bermaksud untuk mengakhiri pembahasan tentang aurat dengan menyerahkan semua itu pada si objek. Nilai yang benar tentu tidak berakhir pada relativisme; semacam adagium, “Menurut kamu benar, belum tentu benar menurutku.” Itu epistemologi Barat. Barat merestui relativisme lantaran basis pemikiran mereka adalah materialisme. Tentu tak tepat kalau harus menempatkan Barat sebagai pilihan pikir satu-satunya. Bukan pula lantas meyakini bahwa di Barat tidak ada kebenaran.

Pilihan berbusana untuk identitas, dan untuk eksistensi diri, pada konteks pencapaian eksistensi, sama seperti keinginan berkumpul dengan orang lain atau berorganisasi. Ada semacam kebahagiaan atas pilihan itu, dan merasakan kepuasan karena semua itu dianggap bersosial. Seorang bijak bilang, tiga derivasi verbal kebahagiaan adalah bercengkerama dengan sepertiga malam, shalat berjamaah, dan bertemu rekan-rekan seperjuangan.

Seseorang akan terus-terusan memperjuangkan semua kebahagiaan yang dimaksud dengan identitas yang dibangun. Seorang organisatoris pasti tertarik untuk berupaya menghadirkan kawan-kawan yang belum aktif untuk turut menyelami khazanah perjuangan. Nah, itu eksistensi.

Aku nonton Beyond Borders. Di situ, Angelina Jolie tak hanya kelihatan seksi lantaran bibirnya, tapi juga tampak ningrat dengan naluri sosialnya. Aku tak peduli lagi dengan produk Tomb Rider yang kata orang superseksi itu. Aku hanya kesengsem dengan sikap adopsian anak gaya dia yang berkomposisi berbagai benua.

Atau Michel Pfeiffer. Ia hadir di Dangerous Mind, dan berperan sebagai guru anak-anak jalanan. Blonde rambutnya menggiring interest-ku pada perempuan seksi yang sangat mengerti kemiskinan.

Atau Dian Sastro. Kontribusinya di Ada Apa dengan Cinta dalam peran cewe yang sangat suka menulis dan berprinsip, juga di sinetron Dunia Tanpa Koma, sebagai reporter pekerja keras, seperti menutup minatku pada muka sensualnya. Aku seakan mau melupakan ciuman dahsyatnya pada Rangga di bandara dalam AADC.

Tentu saja aku tidak kemudian bersemangat untuk menyandingkan kesalehan dengan sensualitas dalam kajian vulgar kaum pengusung kesopanan. Tapi, aku memberikan penjelasan sewajarnya tentang insting cowokku yang doyan sensualitas di satu sisi, dan pribadi cewe yang berkualitas di sisi lain. Saat menikah, semua orang pasti merasa bahwa pasangannya adalah sosok terseksi dan berkualitas, kan?

Pakai etika sederhana saja. Saat di bus way, cewe ber-tank top pun tak risih bergelantungan di sesaknya jam-jam sibuk. Tapi, adalah tabu melihatnya dengan tatapan doyan. Ada perasaan gengsi dan malu andai cowo kelihatan doyan di depan cewe berpakaian seksi. Beda kasus kalau si cewe pakai rok mini dan rela ditatapi setiap orang di pinggir jalan. Pasti banyak mata yang akan menatapnya aneh, bahkan berpikir yang bukan-bukan.

Jadi, semua cowo di dunia ini suka sensualitas. Tapi, untuk memilihnya menjadi gaya hidup, cowo juga punya penilaian sendiri atas sensualitas yang ia inginkan. Meski banyak uang dan doyan berpakaian seksi, ternyata Britney Spears semakin merasa bahwa hidupnya tidak berarti. Di zaman Victoria, virginitas sangat dijunjung tinggi di Inggris. Mereka juga mengenakan rok-rok panjang sebagai bentuk reputasi sosial atas keningratan status dan kepandaian. Orang Inggris juga malu untuk berpelukan.

Jadi sebenarnya, menilai keseksian tidak sesederhana menarik syahwat kotor, atau membuat seseorang menjadi rendah moralnya. Sekali lagi, itu identitas yang ingin mereka bangun. Dan juga, untuk mereka… bahkan lingkungannya.

Perlunya dakwah tentang aurat akan sangat relevan bila kesepakatan tentang ini telah dicapai. Bukan berarti menganggap seruan tentang menutup aurat adalah salah. Sebab, berbicara adalah hak, asalkan tidak ada yang merasa dirugikan. Alasan moral agamanya, diwajibkan untuk saling mengingatkan, dengan dakwah sebagai salah satu variannya.

Nah, isu pornografi-pornoaksi boleh-boleh saja, dalam kerangka pembanding tren berbusana dan berbudaya; bukan komoditas politik-kekuasaan. Pelacur mana sih yang berani berdandan pas-pasan saat masuk rumah ibadah? Mereka pasti akan meninggalkan semua identitasnya itu di luar. Tapi, mengapa mereka tetap saja berperilaku sama setelah keluar rumah ibadah? Sekali lagi, semua itu untuk membangun identitas dirinya; bukan untuk orang lain, apalagi memanjakan orang-orang yang melihatnya.

Menurut Francis Fukuyama, kegagalan gerakan islamisme justru berbenturan pada kondisi islami yang telah lama ada di Eropa. Maksudnya, bagaimana mungkin Islam yang menjunjung tinggi kedisiplinan, kebersihan, dan kerapian bisa dianggap sebagai hal menarik baru, bila pada kenyataannya di Eropa keadaannya memang telah lama demikian.

Nah, yang lebih parah, gerakan anti pornografi-pornoaksi yang salah, bisa membagi orang-orang Muslim ke beberapa kategori. Ada Muslimah yang akhirnya merasa bahwa ia tidak benar-benar islami. Kalau dia lantas mencari tahu untuk belajar, itu lebih baik. Nah, semisal dia malahan merasa dieksekusi, bahkan dengan berondongan norma yang intens, barangkali ia bisa kehilangan kepercayaan diri, dan merasa tidak diberi kesempatan bertanya.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 28 Januari 2008