Search and Hit Enter

Pragmatisme-Religius

All of my life
I have been waiting for all you give to me

Open my eyes and show me how to learn….

Aku tersungging. Belakangan, kuping dan otakku dipenuhi My Valentine-nya Jim Brickman featuring Martina McBride. Meski sudah berdasa-dasawarsa umurnya, lagu itu masih sangat soft untuk dikenang, difanatiki, dan mungkin, disesali. Aku tidak sedang kehilangan sesuatu, atau mungkin, merindukan sesuatu. Aku seperti sepakat untuk membuka persepsiku atas realitas yang aku jalani sekarang dengan konstruksi realitas ketika lagu ini dibuat.

Menurutku, Hegel hampir saja salah. Aku bisa rasakan kalau sejarah itu bisa terulang kembali, bukan terus-menerus dinamis. Aku terpaku pada keinginanku atas masa lalu yang sepertinya memang penting untuk diulang… persis!

Sebenarnya, lagu ini sederhana. Ia bercerita tentang kesungguhan, pemberian, pengertian, dan yang pasti, pengorbanan. Belajar mengerti, belajar memaknai pemberian, menyimpulkan bahwa kasih adalah nilai suci untuk dirasakan, dipikirkan, dan dibagi.

Banyak pilihan limit yang lantas lahir. Ya, apa pun yang terjadi, bagaimana pun, biar pun, atau ngga’ peduli tiba-tiba saja mengeras kuat. Ekspresi rigid yang mewakili keyakinan meski sedikit nekad. Ada ruang untuk mendeklarasikan kebebasan memilih sebelum “intervensi kondisi” berpengaruh kuat. Ada kesempatan untuk mendengarkan hati nurani sebelum waktu yang “seperti” tak bisa dilawan. Karena, andai kesempatan itu tak ada, Hegel memang salah.

If there is no way
No way to stay ….

Pfuh… garansi banget ngga’ sih? Tapi bukan begitu. Tak ada pemisahan antara eksistensi dan esensi. Bila kita lantas ‘menuhankan’ kekuatan material, adalah karena sulitnya memisahkan eksistensi Tuhan dalam bentuknya yang material. Sebab, Tuhan memang bukan material. Namun, eksistensi Tuhan ada dalam semua hal material.

Semisal, ada penyandaran yang berlebihan kepada sesuatu, bukan lantaran sandaran itu Tuhan, tapi sandaran itu adalah persepsi yang kita buat untuk menemukan Tuhan. Trus, juga bukan perantara, karena untuk menuju Tuhan tak perlu perantara, hanya butuh metode.

Ini bukan kriteria tentang manifestasi kodrat. Ini bukan hal yang gampang dimengerti tapi sering dinikmati. Namun, tak senaif itu. Kita sepakati bahwa memang ada ruang pilihan yang tak perlu pembahasan cukup, karena memang kodrat. Baru selanjutnya, kita kriteriakan semuanya untuk verifikasi keabsahan keyakinan. Ya, menyusun persepsi atas itu.

Menurutku, menerjemahkan ‘awal’ lebih gampang ketimbang harus mengaplikasikan konsekuensi ‘awal’ itu dengan menjadikannya proses yang definitif. Semisal, tanpa kesulitan yang berarti manusia akan berkecenderungan untuk meyakini bahwa ‘awal’ memang ada.

Manusia adalah makhluk percaya. Ia, secara hakikat, menyadari keberadaan sandaran yang terang-terang sangat bisa dimengerti. Sebab, ‘awal’ itu memang ‘ada’. Ia adalah Tuhan.

Cuma, kalau lantas kita dituntut untuk melanjutkannya dengan menyusun kriteria penjelas tentang konsekuensi ‘ada’, kompleksitas pikirnya akan semakin terasa. Sebab, mematerialkan ‘ada’ dalam aktivitas, butuh perantara serius yang mensyaratkan kriteria khusus pula. Maka wajar, kalau Tuhan juga menisbahkan rasul dalam mentransformasikan ajaran nash suci ini ke realitas yang lebih kontekstual.

Selain itu, butuh pemahaman rigid tentang dinamisasi nilai itu dalam kerangka fluktuatif. Maksudnya, di satu sisi, kita meyakini kebenaran yang sampai kapan pun tak akan terdefinisikan sempurna, sementara di sisi lain, kita dituntut pula untuk menyusun keyakinan tentang kebenaran menurut persepsi kita. Sebuah pertanggungjawaban tentang keyakinan yang sulit.

Bagaimana mungkin kita akan memilih kebenaran, sedangkan kebenaran itu tidak akan pernah kita gapai; sedangkan kebenaran itu masih selalu ada pada titik dinamis; ya, masih berproses? Kita harus memilih, meski kita yakin bahwa itu tak akan pernah bisa selesai.

Sampai di sini, aku maklum, kalau lantas mempertahankan dan melanjutkan itu lebih sulit ketimbang meyakini sesuatu. Semisal, memprakarsai atau mendeklarasikan komitmen (baik itu komitmen kepada agama, keluarga, atau yang lain) adalah hal yang gampang, sedang menerjemahkan itu dalam berbagai kontekslah yang tidak gampang.

Kita harus meyakini bahwa komitmen itu mahal—bila terlalu jauh dibilang suci—dan harus dipertahankan sedang kita sendiri ragu kalau ternyata, persepsi tentang komitmen itu tak pernah selesai. Setia itu harus, cuma kalo harus menghubungkannya dengan perilaku yang mencerminkan kesetiaan, ternyata masih perlu banyak pendekatan.

Komitmen sebagai kekuatan suci adalah keniscayaan. Hanya saja, menerjemahkan komitmen dalam kerangka nyata dinamislah yang susah. Makanya, aku samakan itu dengan dinamika pikir kita tentang runutan kebenaran. Ya, berproses ‘menuju’ kesempurnaan. Memperbarui persepsi itu setiap saat, tanpa menyangkal bahwa nash itu suci. Begitu pula komitmen, ia sangatlah suci.

Pragmatisme adalah cara pandang yang beranggapan bahwa semua hal itu dinilai atas dasar kegunaan (manfaat). Sedang religius merupakan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Jadi, pragmatisme-religius menjawab persoalan-persoalan seputar pemisahan dunia dan akhirat. Artinya, agama adalah inspirasi manfaat dan kemanfaatan adalah nilai yang ditawarkan agama. Bila dua hal ini dipisahkan, berarti ada pijakan baru tentang manfaat dan agama yang terpisah.

Secara riil, manusia membutuhkan sandaran dalam mengagendakan kemanfaatan di dunia. Sandaran itu tak bisa ditawar dengan apa pun alias absolut. Nah, manusia juga perlu untuk mewujudkan manfaat dengan didasarkan pada sandaran tersebut agar kekal, tidak membosankan, sementara atau gampang ditebak. Berarti agama dan manfaat itu selaras. Sederhana kan?

Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh (Ibrahim: 2-3).

Akhirnya…

I will give you my heart…
Until the end of time…

You’re all I need…
My love…

My Valentine…

Solo, 12 Mei 2005