Search and Hit Enter

Mahasiswa Baru dan Tokek

Gedubrak!!!

Anak kecil itu jatuh tersandung barang berat. Selanjutnya, tangisnya terdengar pecah memenuhi rongga telinga seisi rumah. Tangisan yang wajar dan khas dari seorang anak kecil.

Dan setelah beberapa saat kemudian dia pun terdiam. Tangisnya tak lagi mengharu biru.

“Yah, besok kalau beli sepatu yang ada lampunya,” begitu pintanya pada sang ayah.

Lucu dan unik bagi seorang Gedhe Prama, sang ayah. Namun, di beberapa waktu kemudian, berbagai merek sepatu meluncurkan model sepatu yang berlampu; tak peduli produk ekspor atau impor.

Gedhe Prama bukan tak berdasar waktu ide aneh itu lantas dikaitkan dengan tangisan buah hatinya akibat tersandung. Dia tahu betul, betapa ide sangatlah berarti berarti bila diolah dengan tepat dan cerdas. Produksi ide tak hanya lahir ketika gagasan para pakar beradu di pentas podium-podium ilmiah. Karya tak harus menggeliat sekadar oleh sang pemilik kaca mata tebal, ‘kutu buku’. Inovasi tak wajib lahir dari observasi yang rumit. Tapi ide mampu dipahami sebagai aliran darah layaknya orang mesti berkedip.

Konon, dahulu tokek sangat disukai manusia sebagai pemberi tanda waktu yang konsisten dan dapat dipercayai. Hingga, pada suatu waktu tokek tak tepat waktu lagi akibat terlena akan fasilitas yang diberikan manusia. Mulai saat itulah tokek akhirnya dimusuhi manusia karena ketidakkonsistensiannya.

Waktu itu tokek tak yakin kalau suaranya bakal dipuja banyak orang mengingat dengan matahari atau bulan pun manusia telah tahu waktu. Dan sepertinya, tokek pun bukan pilihan yang benar-benar dibutuhkan. Hanya karena manusia telah terbiasa dengan kelakuannya, maka pola lazim akan kebiasaan pun terbentuk.

Dan tentunya mahasiswa baru bukanlah tokek. Mahasiswa baru juga bukanlah anak kecil yang gampang menangis ketika tersandung sesuatu. Namun, asumsi feodal tentang mahasiswa baru adalah pemain baru memang telah mengakar tidak hanya bagi kakak tingkatnya. Tapi juga bagi orang yang ‘dianggap baru’, mahasiswa baru. Entah karena sistem strata pendidikan yang memisahkan elementary, junior, dan high school tak seperti di Eropa. Namun, tak sekadar strata pendidikan. Persoalannya adalah justru pada pengaminan terhadap kekuatan sistem yang telah ada. Ya, taken for granted.

Ideolog-ideolog Iran mampu begitu tangguh dikarenakan mereka begitu paham akan nilai-nilai Islam, serius belajar filsafat dan sains modern, tidak pernah sepakat akan ideologi pendahulunya, dan selalu memposisikan barat sebagai komunitas yang harus selalu diawasi dan dipelajari. Seakan mitos tentang kekuatan ‘baru’ atau ‘muda’ sebagai pilar perubahan memang sudah sampai pada tahapan keyakinan. Soekarno pun adalah sosok yang selalu mendengung-dengungkan kekuatan pemuda di eranya.

Bukan sekelas Jerry Rubin, tokoh pergerakan anti perang Vietnam Amrik yang tumbang di usianya yang masih muda akibat komitmennya tentang perjuangan dipertanyakan golongannya saat dia sudah mencium bau uang. Atau tentang sumpah pemuda, penculikan Rengas Dengklok, angkatan ‘66 waktu KAMI dan KAPPI unjuk idealismenya. Atau … ‘98 kemarin.

‘Baru’ bukan kriteria ingusan, kolokan, atau amatir. Namun, ia adalah warna baru dalam dinamisasi kondisi. Jadi, mahasiswa baru adalah sosok eksis yang tak seorang pun layak menjustifikasi ke-baru-annya. Bila ini tak dipahami sebagai azas berpartner atau sekadar dimunculkan lantaran ada tendensi pengakuan akan eksistensi pendahulunya, sistem kemanusiaan di persada ini telah bobrok.

Solo, 16 Juli 2002