Search and Hit Enter

Praksis

Walaupun kita cuma dua atau tiga ribu, tetapi kalau kita dalam aksi politik sebagai avant garde (baca: pemimpin) dikelilingi oleh beribu-ribu proletar dan nonproletar sebagai reserve (baca: pendukung), dan disukai oleh seluruh rakyat yang tertindas sebagai landstorm (baca: kekuatan penekan), kita bisa menang. Tan Malaka dalam Semangat Muda (1926)

Tepatkah sekolah anak-anak penerus bangsa kita? Akankah setelah lulus nanti, pekerjaan bisa gampang didapat? Apa pula perlunya bergabung ke organisasi perjuangan? Apakah ia dapat dijadikan tumpuan untuk cepat lulus dan punya banyak uang?

Berderet pertanyaan serupa bisa jadi lebih banyak dalam benak anak sekolahan baru—bahkan lama—siapa pun dia. Pertanyaan yang selalu mengiringi hari-hari sekolah mereka lantaran terkadang, sekolah mereka memang tak segemerlap yang lain. Kekhawatiran ini mungkin semakin meninggi saat dijumpai kenyataan bahwa ternyata kawan-kawannya lebih tinggi reputasinya. Minimal, untuk uang saku dan tongkrongan sepintasnya.

Namun benarkah serumit itu? Benarkah anak sekolahan tak memiliki prospek? Benarkah organisasi perjuangan hanya tempat untuk menghabiskan waktu? Akankah lulusan sekolah di kita mampu memberikan yang terbaik bagi agama, nusa, bangsa, orang tua, juga dirinya sendiri?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, alangkah lebih baiknya kita diagnosis kondisi Indonesia hari ini. Sebab, situasi nasional sangat dipengaruhi oleh kondisi global, lantas turut berpengaruh besar pada kondisi lokal.

Indonesia Hari Ini

Alangkah mujurnya anak-anak sekarang. Mereka dihadapkan pada permasalahan kompleks kebangsaan yang entah kapan bisa terselesaikan. Yang paling dekat, biaya sekolah terasa semakin mahal dan harga-harga kebutuhan kuliah pun tinggi. Belum lagi soal gaya hidup dan pemuasan keinginan pribadi yang tentu, ingin diakui sebagai seseorang yang ‘berkecukupan’.

Sekolah saja belum lulus, sementara di kertas makalah yang tiap saat mereka digeluti terpampang jutaan data pengangguran. Mendapatkan nilai tinggi saja mesti berpeluh-peluh, sementara kenyataan membuktikan, lulusan bernilai tinggi tak selalu beruntung setelah lulus. Dan semua itu ternyata berhubungan erat dengan realitas nasional Indonesia yang setidaknya bisa diringkas menjadi empat hal: kemiskinan, kebodohan, monopoli, dan negara yang lemah.

Pertama, kemiskinan. Karena masyarakat Indonesia masih berpendapatan rendah maka kemiskinan pun di mana-mana. Anak-anak orang miskin tak punya banyak pilihan karena kompetisi mengharuskan uang yang kadang, tak sedikit. Lihatlah uang yang disediakan beberapa orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke instansi terpandang. Bila tak ada uang, mereka akan kalah bersaing.

Kedua, kebodohan. Karena miskin, banyak orang yang tak bisa sekolah. Kalau pun bisa kuliah, mereka akan masuk ke jurusan yang tak terlalu menguras uang. Fasilitas yang sedikit karena sekolahnya murah akan membentuk lulusan yang tak terlalu menguasai skill. Banyak dari mereka yang kemudian tak bisa bersaing hanya karena dulu, laboratorium sekolah lain lebih komplit dan jaringan pendidikannya lebih variatif.

Ketiga, monopoli. Lulusan sekolah-sekolah di Indonesia dihadapkan pada kondisi ekonomi yang dikuasai kapital besar. Di sana-sini banyak perusahaan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang kaya di negeri ini. Kalau pun berniat wirausaha, karena modal tak sebesar perusahaan-perusahaan itu, mereka akan sangat kewalahan. Maka wajar kalau banyak lulusan kampus yang lebih memilih menjadi buruh/karyawan atau PNS.

Keempat, negara yang lemah. Semua problem itu sebenarnya akan sedikit tertolong bila negara kuat. Tapi lihatlah, banyak sekali kebijakan publik yang berpihak pada kapital besar daripada rakyat. Sebabnya jelas. Kapital besar saat ini telah menguasai negara dan dapat seenak perutnya mengarahkan kebijakan pemerintah, meskipun itu berurusan dengan hajat hidup rakyat banyak.

Penggolongan Kelompok

Lebih lanjut, sebenarnya negeri ini hanya diisi oleh empat kelompok dominan. Mereka saling memperkuat diri untuk mengalahkan yang lain.

a. Kapital Besar

Kapital besar yang dimaksud adalah perusahaan swasta, baik dalam maupun luar negeri, yang memiliki modal besar. Mereka memiliki ribuan bahkan ratusan ribu buruh/karyawan. Walau ada serikat pekerja dan bermacam tekanan dari negara dan kelompok masyarakat yang menginginkan kehidupan buruh/karyawannya lebih sejahtera, tapi tetap saja perusahaan-perusahaan itu tak bisa dipengaruhi. Mereka sering beranggapan, “Hari ini perusahaan memecat seribu buruh/karyawan, di meja HRD telah ada sepuluh ribu lamaran kerja.” Akhirnya, mereka tak sungkan untuk mengatur gaji buruh/karyawan serendah mungkin. Bila kemudian ada perusahaan bermodal kecil tapi juga sewenang-wenang seperti perusahaan besar maka mereka juga bisa dikategorikan pada kelompok yang sama.

b. Negara

Negara yang dimaksud adalah pemerintah. Karena saat ini era negara-bangsa (nation-state) maka negara sangat diperlukan untuk melakukan konsolidasi nasional dengan doktrin baku, nasionalisme. Mereka diharapkan mampu mempersatukan negeri dan dapat menjadi administrator yang baik bagi rakyatnya. Negara memiliki pegawai-pegawai pemerintahan untuk melaksanakan semua fungsinya.

c. Proletar

Proletar adalah sebutan kelompok bagi semua kalangan yang sangat peduli pada kesejahteraan rakyat. Ia bisa jadi seorang buruh/karyawan perusahaan. Ia bisa jadi seorang petani atau pedagang kecil. Dan ia bisa jadi juga seorang intelektual.

d. Nonproletar

Nonproletar diisi orang-orang yang berprofesi sama dengan kelompok proletar, tapi mereka hanya berorientasi pada kepentingannya. Ia bisa jadi seorang buruh/karyawan yang hanya memikirkan gaji dan tak peduli pada yang lain. Ia bisa jadi seorang petani atau pedagang kecil yang hanya ingin kekayaan pribadi. Ia bisa jadi juga seorang intelektual yang mau dibayar untuk kepentingan kapital besar atau negara.

Landasan Pikir

Untuk menyelesaikan persoalan, landasan pikir juga sangat penting. Beberapa hal dapat dijadikan referensi untuk memberikan keyakinan pada diri sendiri atau kelompok. Keyakinan tentang hidup yang harus selalu lebih baik.

Pertama, kekayaan itu bukan milik manusia. Ia adalah amanah dari Allah Swt. Adanya si kaya dan si miskin pada setiap zaman itu keniscayaan atau sebuah keharusan sejarah. Kalau tak ada si miskin tentu si kaya tak ada. Begitu pun sebaliknya. Artinya, kedua kelompok ini ada memang tidak untuk dibenturkan. Persoalan muncul saat si kaya zalim pada si miskin dengan tidak memberikan sebagian hartanya untuk membantu si miskin. Atau saat si miskin memilih untuk berbohong, menipu, dan berperilaku buruk sejenis untuk menjadi kaya. Saat disadari bahwa kekayaan atau kapital itu hanya amanah maka persoalan kemiskinan tak perlu saling menyakiti. (Catatan: disebut kemiskinan karena berisi kumpulan persoalan tentang si miskin. Kemiskinan juga akan selalu ada menemani kekayaan)

Kedua, hidup tidak untuk berlebih-lebihan. Apa hebatnya bila seseorang memiliki kekayaan melimpah tapi ada tetangganya yang masih kekurangan? Apa enaknya dipuji-puji orang sebagai sosok sukses, tapi tak bisa membantu kawan sendiri yang terbelit persoalan rumah tangga, terutama keuangan atau PHK?

Ketiga, akumulasi atau pemusatan modal itu merusak keseimbangan sosial. Sudah wajar adanya bila pemerataan kapital itu penting. Bila kapital hanya terpusat pada segelintir orang maka akan terjadi ketimpangan, dan berbuah chaos atau kerusakan.

Keempat, pentingnya pendidikan bagi semua. Dalam kondisi sesulit apa pun, pendidikan sangat penting bagi perkembangan manusia dan kemanusiaan. Bila masyarakat di suatu tempat sudah tak lagi mendapatkan pendidikan karena bermacam hal, termasuk karena miskin, maka mereka tinggallah menunggu kehancuran.

Kelima, kultur egaliter-demokratis atau menganggap setara sebagai manusia sangatlah penting bagi keberlangsungan kemanusiaan. Dengan itu, tak ada lagi keinginan untuk menguasai, dan saling menghormati sesama manusia akan langgeng.

Keenam, nasionalisme juga penting. Kompetisi global mensyaratkan soliditas nasional yang kuat. Bila tak ada persatuan dan kesatuan nasional, negeri ini akan sangat gampang dikuasai bahkan dihancurkan bangsa lain.

Pola Aksi

Setelah mendiagnosis persoalan, diperlukan pola aksi untuk kemudian diturunkan pada program-program nyata. Lebih lanjut, ini dapat disebut dengan ‘gerakan perjuangan’.

Pertama, konsolidasi proletar. Mengapa tidak konsolidasi kelompok yang lain seperti negara, kapital besar, atau nonproletar? Sebab, saat ini, kelompok proletarlah yang paling dapat diharapkan menyelesaikan persoalan lantaran mereka selalu berpikir kesejahteraan dan keadilan rakyat banyak. Mereka juga menginginkan perubahan dan berusaha keras mengurangi kezaliman kapital besar. Sementara, nonproletar hanya mementingkan kepentingan mereka saja. Dan negara sangat lemah posisinya di depan kapital besar. Pada tahap ini, organisasi perjuangan dapat diharapkan menjadi ajang terwujudnya konsolidasi proletar. Jadi, dari organisasi perjuangan akan lahir banyak figur yang berpikir tentang kepentingan rakyat banyak. Sebab, bila mereka terbiasa menyelesaikan persoalan kompleks maka persoalan pribadi mereka akan relatif gampang bisa dipecahkan. Mereka akan mandiri dan berguna bagi orang lain.

Kedua, membuka unit usaha di sektor ekonomi basis. Tahap ini sulit bagi umumnya anak sekolahan, tapi dapat dianggap sebagai ladang pengalaman untuk kemudian ditekuni ketika lulus. Kata kuncinya adalah pemberdayaan. Organisasi perjuangan semestinya dapat melakukan kreasi-kreasi untuk membentuk komunitas yang mandiri, untuk kemudian diarahkan pada masyarakat yang mandiri. Mandiri yang dimaksud itu tidak tergantung pada perusahaan besar atau negara.

Ketiga, memberikan pendidikan bagi semua. Pendidikan yang dibidik tidak hanya formal, tapi juga informal dan nonformal. Formal itu sekolah umum dan resmi. Sementara informal itu sekolah tanpa gedung dan tanpa sertifikat; bisa pengalaman atau autodidak. Pendidikan nonformal adalah pendidikan luar sekolah tapi bersertifikat seperti kursus-kursus. Jadi, kalau tak bisa membuat sekolah, bisa digelar training singkat. Bila pun itu tak bisa terwujud dapat dilakukan kaderisasi terstruktur, tanpa sekolah dan training. Organisasi perjuangan tentu akan sangat berguna untuk melakukan pendidikan yang dimaksud.

Keempat, komunitas ini akan mempengaruhi perubahan sosial, juga mengurangi dominasi kapital besar dan membuat pemerintahan lebih berkualitas. Bila ini berhasil, semua pertanyaan di awal tulisan akan bisa diselesaikan, termasuk memotong lingkaran setan kemiskinan. Amin.