Search and Hit Enter

Tan Malaka

Hari ini aku ke Palembang. Bisa sampai satu minggu,” seorang kawan berpamitan padaku. Dia hendak memberikan pembekalan political marketing pada sebuah basis politik di sana. Semacam arahan singkat membidik preferensi voters agar kesengsem dan mendukung calon-calon pejabat yang telah disiapkan.

“Hati-hati di jalan. Aku cuma bisa bilang begitu. Ini kalimat standar. Sebab, perjalanan ini bukan bagian agenda revolusi,” timpalku dingin. Entah mengapa, beberapa menit belakangan, aku kembali kerasukan gumpalan pikir Marx tentang pentingnya antitesis dominasi. Aku mulai muak dengan semuanya.

“Ini juga revolusi. Revolusi melalui political marketing,” sanggah kawanku agak berdesing.

“Revolusi untuk kekuasaan melahirkan political marketing. Sebentuk agenda kaum revolusioner gadungan yang tak bisa bertahan, hanya karena tak punya kekuasaan. Tan Malaka disebut cerdas karena ia bisa eksis secara politik tanpa dukungan kekuasaan formal. Bukan malah jadi kacung syahwat kekuasaan bernama demokrasi,” akhirku menukik.

Aku sebut sebuah nama penting di jalur revolusi, negeri Indonesia. Dan kawanku pun tak lagi berkelit. Ia pun mengamini semua stempel itu.

***

Dulu, saat 1926 revolusi menggema di Banten dan Sumatera, sebagai tanda cita meruntuhkan kolonialisme Belanda, kader-kader komunis masih ingusan. Mereka terlalu bernafsu menurunkan simulasi das kapital dalam benak Engels dan Marx ke ranah Hindia yang sama sekali belum terdidik. Deru revolusi hanya nyinyir ditelan angin sore yang lembut menerpa badan-badan kurus rakyat Hindia.

Pada 1948, Semaun dan Muso kembali meneriakkan Revolusi di Madiun. Sekali lagi, dengan merah putih di tangan. Parahnya, momentum ini justru digelar pada masa pertumbuhan republik yang masih balita. Bukan simpati yang didapat, mereka justru dianggap duri dalam daging.

Sewaktu Aidit mengusulkan Angkatan ke-5 dalam tubuh republik pada 1965, dan diduga kuat turut melibatkan PKI dalam konflik bersenjata di tubuh TNI, revolusi pun menjadi sangat mengerikan. Hingga hari ini, semua hal berbau Indonesia berusaha kuat menepis trauma berdarah-darah itu dari ingatan generasi penerusnya. Bung Karno bahkan pernah bilang, “Ini revolusi. Jadi tak akan pernah ada kebebasan pers.” Sebaris kalimat bernada diktatorian, hasil persekutuan aneh PKI dan Bung Karno. Yang bahkan membubarkan Masyumi. Yang bahkan menafikan teguran Hatta soal demokratisasi. Yang bahkan hendak membubarkan HMI.

Tan Malaka berkata, “Mereka kaum revolusioner yang kurang bersabar.”

***

“Kang, aku yakin, Indonesia yang lebih baik itu ada. Sekarang, aku dan kawan-kawan sedang belajar serius bertani. Kalau petani bisa mandiri, Indonesia yang sejahtera akan terwujud,” ujar seorang kawan beberapa waktu lalu.

Bicaranya tak hanya isapan jempol. Sering kali saat aku menemuinya, pengetahuan tentang pertaniannya semakin mumpuni. Ia sangat berobsesi mengetahui proses pertanian, mulai dari awal tanam hingga pemasarannya. Kelak, bila semua ilmu itu telah dikuasai, ia tinggal melakukan penggalangan konsolidasi antarpetani untuk menyejahterakan bangsa. Yang mengharukan, kalimat ‘Indonesia yang lebih baik’ itu ia kutip dari blog-ku. Empati yang terang membuatku belingsatan, lantaran dianggap saudara sejiwa dan sepikiran.

“Asal saat semua telah besar, bukan justru menjadi penguasa baru yang ternyata berkelakuan sama dengan orang-orang yang menurut kita saat ini sebagai orang yang salah,” jawabku khawatir. Sebab, semangat meledak-ledak hanya akan mengantarkan seseorang pada keterburuan yang jelas mencederai cita-cita besar semacam kemanusiaan seperti ini.

Telepon genggamku berderit. Ada sebuah pesan singkat menyapaku, “Kang, ini aku lagi di Bandung. Mau presentasi di depan pengusaha-pengusaha. Gimana caranya biar aku ngga grogi?”

Alisku langsung naik. Sejak kapan orang-orang dekat di sekitarku bisa dibuat setengah hati di depan ngilunya penderitaan kaum buruh atas UMK yang rendah dan fasilitas pemberdayaan dari negara yang minim? Sejak kapan status-status jabatan perusahaan yang hanya bisa berbangga pada dasi dan mobil mewahnya itu mampu membuat seorang kawanku terkesima?

“Kita tidak akan pernah bersujud pada modal dan korporasi-korporasi besar itu karena kita tahu persis efek dari kelakuan mereka. Dan semoga kita lebih baik dari mereka di depan Tuhan,” balasku menahan nafas.

Di lain waktu, kawanku yang lain menyelaku. “Dari perilaku kamu, sebenarnya aku telah tahu kalau kamu memang pantas begini. Soalnya, kita ngga jauh beda.”

Aku pun mengetatkan nyaliku dengan mendukung pernyataan barusan, “Sejak dulu hidupku tak pernah bisa ditebak. Bila memang Tuhan telah menggariskan hidupku dalam ketidakpastian, biarlah aku masuki semua hidup yang tak pasti itu sebagai dedikasi.”

***

Aku beruntung berada pada kisaran aktivitas bermacam tapi bernada sama, revolusi. Dedikasi yang meyakinkan diri untuk memilih jalan mendasar dan bertahan dengan itu daripada sekadar takluk di depan dominasi. Tentu dominasi yang zalim. Tentu dominasi yang tak pantas. Dan tentu dominasi yang tak memberi ruang pada kebersamaan sebagai manusia.

Senada keinginanku untuk tetap dimiliki, dengan semua inginku, yang berharap agar bisa tetap eksis di jalur revolusi. Revolusi atas nama Tuhan.

“Di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim. Dan di depan manusia, saya bukanlah seorang Muslim,” ucap Tan Malaka; semakin memampatkan hardikan gemerlap duniawiku.

Aku tersenyum. Bahkan hingga wafatnya, Tan Malaka tak pernah menikah. Seorang yang sangat dicintainya, dan memilih untuk menikah dengan orang lain, berkata, “Ia orang yang aneh.”