Search and Hit Enter

Fathul, Budi, dan Revolusi

BANDUL waktu menunjuk bulan November 2000….

Malam beranjak larut. Bagi beberapa gelintir mahasiswa di sebuah kos-kosan dengan plakat kecil bertuliskan HMI Cabang Sukoharjo Komisariat Salman Al-Farisi UMS, tanda-tanda kehidupan justru baru tampak. Letaknya yang di pinggir sawah dan sungai, agak jauh dari permukiman, memberikan kenyamanan agak berbeda, lantaran tak akan menyinggung masyarakat bila pun harus menggebrak meja, berteriak marah, atau sekadar menggelar konser terbatas semalaman dengan harmonisasi dua gitar plus satu ember plastik.

Makhluk yang berdatangan ke tempat ini juga tak jelas rupanya. Suatu ketika, seorang kumal datang mengetengahkan kegalauannya tentang bangsa. Pada kali yang lain seorang klimis mendedahkan filsafat sebagai tanda kepungkasan pikirnya menyelesaikan satu buku. Pada waktu yang berbeda, seorang berkaca mata dengan wajah tirus tak terurus girang bukan kepalang hanya karena bisa menjadi panitia Ospek.

Tak ayal, dalam satu waktu, terkadang, tempat ini lebih mirip Pasar Kleco Solo yang bising di awal hari, dengan komoditas jual yang agak berbeda; retorika. Belum lagi, tiba-tiba ada yang terkesiap drastis hanya karena esok pagi akan digelar ujian. Momentum penting bagi semua mahasiswa, tapi senyap bagi komunitas ini. Sebuah teladan buruk.

“Fathul, menurut elo, revolusi itu bisa terjadi di Indonesia, ngga?” pertanyaan penting mengawali perhelatan pikir malam ini.

Pelontar pertanyaan ini berkaca mata agak tebal, berambut semi keriting, dan sekutu rokok yang loyal bernama Budi Gunawan Sutomo. Ia Kabid PPA Komisariat Ahmad Dahlan I; komisariat pertama di HMI Sukoharjo. (Kelak, ia masuk jajaran Staf Ketua HMI Badko Jateng-DIY) Budi memang terhitung sering datang ke komisariatku.

Sosok ini menggilai khazanah zoon politicon ketimbang homo socius. Ia lama berkutat pada skenario alam tentang homo homini lupus. Memilih dunia baru guna meyakinkan dirinya juga publik, tanda ia yakin bahwa dunia belum pada jalur yang benar.

Budi sosok kontroversial. Solo menjadi saksi, tentang adrenalin yang ia kerahkan sepenuhnya pada gerakan mahasiswa. Hasilnya fantastis. Semester tiga, ia sanggup mendesain konstitusi KAMA UMS. Biasanya, seumuran itu, beberapa mahasiswa lebih memilih mengekor atau paling banter, menganggap diri underdog, atau meski tampak pandai, ia pasti tak PD unjuk eksistensi. Budi berbeda. Ia pembaca bandel, pendiskusi semalam suntuk, juga penyisir kasus yang tekun. Meski tak pandai mengurus badan, dan terkenal doyan tidur, ia dapat mempersembahkan karya-karya terbaiknya pada gerakan mahasiswa.

Untuk belajar marxisme, ia merapat ke PRD, komunitas yang tak populis dan bahkan tak disukai kader-kader HMI di sekitaran Solo. Untuk mengambil peran gerakan, ia memilih berakrab-akrab ria dengan buruh pabrik atau petani di sudut-sudut perkampungan kumuh. Ia menikmati semua itu sebagai bagian dari dirinya. Meski reputasi politiknya tak terlalu mendapat tempat di kalangan internal HMI, Budi melenggang tak terbendung dan tercatat sebagai salah satu ikon gerakan mahasiswa di Solo.

Fathul, tokoh yang ditanyai Budi, bergeming. Ia hanya sedikit bergerak untuk merapikan buku-buku tebal di depannya. “Revolusi itu ngga usah direncanain. Kalo kapitalisme telah sampai puncaknya, cita-cita komunisme Marx akan terjadi dengan sendirinya,” timpalnya singkat. Setelah sekian lama, aku baru tahu, bagi Leninis-Stalinis, revolusi memang terdiri dari dua tahap. Pertama, borjuasi proletariat. Kedua, sosialisme.

Sosok yang kedua ini Kabid PPA-ku. (Kelak, ia juga mampir sebagai Pengurus HMI Badko Jateng-DIY bersama Budi) Beberapa bulan belakangan ia menjadi teman diskusi intensifku. Ya, aku baru saja lulus LK 1 akhir April kemarin. Biasanya, ia bersepeda ria datang ke kosku hanya untuk meminjami buku. Topi rimba yang lekat di kepalanya selalu mengingatkanku pada undangan diskusi NDP yang selalu sepi, dengan tak lebih dari tujuh kader yang hadir; hingga aku ditunjuk menjadi moderator untuk pertama kalinya.

Fathul Alam. Aku menyebutnya, godfather oksidentalisme HMI Sukoharjo. Orang penting yang satu ini bertipikal autentik. Ia sangat gemar berekspresi dengan cara pandang yang asli ia dapatkan sendiri, bukan adopsi apalagi plagiasi. Walau kental eksistensialismenya, ia menyatakan tegas, bukan penganut Jean Paul Sartre. Aku mesti berpayah-payah menyusun partisipasi yang bukan meniru-niru atau setidaknya, kalau pun aku berniat mengutip, Fathul belum sempat mengetahuinya. Soalnya, bila tak hati-hati, aku bisa dianggap tak memiliki kepribadian, malas berpikir, atau bahkan, kufur nikmat. Dahsyat, kan? Serasa di area Khalifah Al-Ma’mun.

Dia mengajakku untuk bersilaturahmi pada pemikiran sederet pemikir Timur Tengah kenamaan seperti Ali Syariati, Fazlurrahman, Hassan Hanafi, atau Murtadha Muthahhari. Dedengkot-dedengkot logika Yunani semisal Thales, Socrates, Plato, Aristoteles, hingga Plotinus mewarnai hari-hariku bersama Fathul. Ia sangat doktriner, mirip guru bahasa Arabku di Ibtidaiyah dulu, yang tiap kali ketemu harus menghafal seabrek mufradad. Ia peletak dasar kebutuhanku akan pentingnya membaca buku dan mengubah mind set agar meyakini kebenaran dengan epistemologi yang cukup; tidak taken for granted atau tertipu pseudo-agama—kalimat ini selalu saja muncul tak jemu di setiap deskripsinya tentang eksistensi.

Bila aku melabelinya sebagai Oksidentalis HMI Sukoharjo, lantaran dialah yang paling getol menyuarakan pentingnya cara pandang bahwa Barat bukan segalanya. Tingkah generasi muda Islam yang kebarat-baratan jelas merupakan bentuk keinferioran sikap yang harus dihilangkan. Sebab, menurut Fathul, Barat berperadaban profan; tidak berstandar transendensi yang cukup. Jadi, adalah lemah bila seseorang masih beranggapan kalau Barat itu superior dan layak diikuti karena mereka tidak berbaiat pada kesempurnaan hakiki.

Beberapa jeda waktu kemudian, Budi dan Fathul pun beradu pendapat sekian lama dengan bahasa-bahasa yang tak terlalu aku mengerti. Sekalinya aku turut dalam percakapan, mereka tertawa. Seringnya, aku belum pernah menjamah buku-buku yang pernah mereka tiduri. Atau setidaknya, masih dianggap kader baru yang tak tahu menahu kata sakral yang menginspirasi Tan Malaka untuk tak pernah duduk di kursi kekuasaan… revolusi.

Aku tetap ternganga hingga Subuh menjelang. Entah apa yang mereka bicarakan.**