Search and Hit Enter

Ninik

“Nin, aku minta satu kalimat tentangku setelah setahun ini,” mohonku pada Ninik Sri Hartini, seorang jujur yang setia di sampingku hingga kepengurusan Pabelan 2002-2003 berakhir.

Seperti biasa, ia tersenyum segera. Mimik spontannya itu selalu ia berikan padaku sebagai respons pertamanya atas semua interaksiku bersamanya. Tak pernah berganti. Aku tahu, ia sedang menyusun jawaban yang menurutnya paling tepat. Aku juga tahu, ia pasti akan menatap sesuatu di depannya untuk membantunya berkonsentrasi. Biasanya, yang ia tatap, meja bundar Pabelan. Kalau pertanyaan agak sulit, ia juga sering garuk-garuk leher, bukan kepala seperti Lupus atau Wiro Sableng. Dan tiba-tiba ia tampak salah tingkah di depanku. Selalu saja begitu….

“Kalau kamu ngomong selalu pengin mempengaruhi orang lain,” balasnya singkat. Ia sedikit mendongakkan wajahnya, berusaha menatapku. Kali ini dengan tajam. Aku sedikit kaget. Tak biasanya ia begitu. Entah apa maksudnya. Tapi, aku cepat-cepat tersenyum. Aku takut melihatnya kecewa lagi di akhir waktu ini.

Ninik memang bukan orang baru di sampingku. Bersama beberapa orang penting, aku dan dia hadir di Pabelan menjelang semester empatku habis. Ketika itu, aku hanya bisa berprasangka bahwa ia tak lebih seperti yang lain. Aku menyebutnya, performance FKIP. Tapi, sejak ia Sekretaris Umum, aku bahkan sering lupa kalau ia satu-satunya pimpinan terbatas yang paling muda.

Ia tak banyak bicara. Aku mengaguminya hingga tak pernah kuasa menyepelekannya, atau mengekspresikannya dengan ‘tatapan cowo’, semisal. Setiap kali bersamanya, aku merasa tenang dan memberikan kepercayaan diri yang cukup bahwa semua akan baik-baik saja. Bila dihitung, lusinan momentum bisa aku ungkapkan. Dari Rapat Pimpinan Terbatas yang selalu membuatnya bingung hingga mengumpulkan seluruh organ gerakan mahasiswa Solo dalam desain isu besar ‘Turunkan Mega-Haz’ semakin merekatkan keberadaan Ninik pada hari-hariku memimpin Pabelan.

Suatu saat ia tak lagi tampak di Pabelan, beberapa minggu. Entah karena apa aku tak tahu. Di depan Rapat Anggota, aku nyatakan ini sebagai ‘Gerakan Boikot Etis’. Sebuah gerakan kru kesekretariatan yang tak dihargai kompetensinya. Setiap kali ada seruan untuk menjaga sekretariat, termasuk kebersihan, kerapian administrasi, hingga logistik, banyak kru redaksi yang tak mau mendengarnya. Pantas saja Ninik marah. Yang pasti, tentu bukan itu problem sebenarnya. Aku hanya sengaja menciptakan nuansa organisasi yang full punishment melalui momentum ketidakhadiran Ninik.

Hingga kemudian saat aku bertandang ke rumah, dengan ayahnya yang setia menemaniku bicara, aku tak perlu bicara banyak pada Ninik. Aku juga tak ungkapkan apa yang sebenarnya dan seharusnya terjadi. Semua terasa datar, dan dengan tatapan mata sore itu, Ninik pun hadir kembali di Pabelan minggu berikutnya. Ya, hingga kini aku tak tahu apa yang sebenarnya membuat ia tak hadir di Pabelan berminggu-minggu.

Harus kuakui. Aku mulai takut kehilangan Ninik. Sebab, hanya dia yang bisa menetralisasi keadaan, tak seperti Pimpinan Terbatas lain yang tentu, jauh lebih rumit lantaran punya kemampuan analisis di atas rata-rata. Sore itu menjawab keraguanku. Ninik akhirnya mau menemaniku hingga akhir kepengurusan. Meski ia juga memilih untuk tak lagi menengok Pabelan pasca menjadi pimpinan, persis sepertiku.

Ia pernah mengungkapkan kebimbangan sangatnya atas semua tekanan keorganisasian karena kebijakan-kebijakan yang aku gulirkan. Ia pernah pulang pagi untuk rapat yang sama sekali tak ia pahami sebab-akibatnya. Ia pernah larut dalam konflik yang potensial memecah belah Pabelan dengan seabrek kesabarannya. Ia satu-satunya pimpinan yang aku percaya saat banyak pimpinan gerah dan hendak hengkang dari Pabelan.

Bukan itu saja. Banyak hal tak terkatakan, memenuhi benakku beriring simpatiku pada puisi-puisi masa kecilnya di Republika. Atau kakak-kakaknya yang lulusan UGM. Atau ia yang sangat dekat dengan ibunya, dan turut berjualan di SD dekat rumahnya, plus sembilan tempat di mana ia mengajar sejak lulus FKIP.

Kesan keukeuh itu lekat di mataku. Ia kabarkan pada Taufan untuk menghormati rekan lain yang tak sepantar kualitas intelektualnya. Ia katakan pada TJ untuk memahami tingkah polahku yang akademis-politis. Ia imbangi Arif Pribadi untuk tetap saling percaya. Pun saat Pabelan meringis mengejar semua deadline-nya. Ya, Ninik juga penulis yang tangguh. Ia bisa lakukan tugas penulisan redaksi jenis apa pun.

Ninik jelas bisa mewajarkan semuanya dalam bingkai aktivitas yang sepertinya, wajar untuk fluktuatif dan dinamis. Ia merasa perlu memaklumi semuanya dan memosisikan diri sebagai sosok penyelaras yang sangat penting. Ia bukan penentu kebijakan, tapi ketidakhadirannya bisa mengguncang organisasi. Ia bukan sosok pemarah bila ada kru yang tak taat aturan, tapi aku bisa kebingungan kalau ia katakan ketidaksukaannya pada perilaku seseorang.

Entah apanya yang membuatku sangat terkesan. Bahkan hingga beberapa kawan menyatakan rasa sukanya sebagai cowo pada Ninik pun, aku tetap tak mau tahu. Aku tak perlu itu, karena buatku dan Pabelan, Ninik sangat penting, di atas semuanya.

“Kamu itu kalau urusan cinta-cintaan emang begitu,” sentilnya suatu waktu. Ketika itu, ia menganggapku tak pernah tertarik perempuan dan seabrek perilaku romantis yang tentu saja, ‘sangat diminati kebanyakan’ itu. Mungkin saja, di mata Ninik aku tampak seperti awak pesawat ulang alik yang hanya mencintai bulan dan meteor. Pfuh!!!

“Aku normal, Nin. Aku juga punya perasaan,” gumamku sederhana.

Oya, terkadang, aku juga memanggilnya, Sri. Aku tak mau memanggilnya Hartini. Itu nama ibuku. Aku juga tak mau memanggilnya Nik. Sebab, aku tak mau seperti orang-orang memanggilnya.