Prasangka Ningrat Kaum Nano-Agraris

Fotografi Sawah 'Teguran Hidup' oleh Lyandra. (Foto; Jepretan Facebooker)

Fotografi Sawah ‘Teguran Hidup’ oleh Lyandra. (Foto; Jepretan Facebooker)

Kenyataan yang terbuat dari kontradiksi harus dibersamai senyuman, atau akan kita hitung sebagai kesalahan.

Jane Austen (1775-1817)

Penulis Novel Inggris, Pride & Prejudice

BETAPA sulitnya mengetengahkan ide teknologi pertanian ini. Simak saja, untuk menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dibutuhkan teknologi yang memadai. Sementara itu, untuk mendapatkan teknologi yang memadai diperlukan biaya yang tidak sedikit dari keberhasilan pertanian yang berkualitas. Manakah yang lebih layak didahulukan? Vicious circle (lingkaran setan—red), akhirnya.

Tapi sudahlah. Itu epistemologi klise. Semacam membangun demarkasi kebenaran untuk mengaburkan pilihan. Lihat saja. Banyak hal di dunia ini yang sepertinya mutlak tak mungkin, tapi pada kenyataannya bisa dimungkinkan, meski dengan sangat perlahan dan saksama. Pada konteks teknologi pertanian, adalah pola pikir out of date bila kemudian semua itu dianggap tidak mungkin. Optimis dalam membangun konstruksi realitas baru tentu awal yang penting untuk membuat karisma pertanian negeri ini ke arah khittah-nya.

Semakin menurunnya harga, kualitas, akses pasar, dan preferensi konsumen produk-produk pertanian memang sebanding dengan rumitnya mengkomposisikan regulasi, pasar bebas, monopoli, juga transaksi valas. Semua itu berkelindan dengan tekstur moneter, fiskal, dan political will. Nah, seberapa pentingkah isu teknologi pertanian ini menyeruak ke tengah-tengah gegap gempitanya demokrasi, civil society, gerakan penghapusan utang, atau gila-gilaannya bisnis hiburan belakangan ini? Jawabannya mudah. Semakin banyak persoalan yang bisa diinventarisasi, tentu saja semakin menunjukkan kedewasaan bangsa ini di depan kenyataan. Sebab, langkah pertama menyelesaikan persoalan adalah dengan mengakuinya. Begitu tutur Liek Wilardjo, salah satu orang pintar di negeri ini.

Kaum Nano-Agraris

Belum lama ini, perkembangan teknologi mencapai maqam (tingkatan—red) baru. Di samping kesuksesan teknologi informasi yang bisa mengantarkan manusia ke dalam alam mikro dan makrokosmos sekaligus secara verbal, pesat juga dikembangkan teknologi hayati (biotechnology) dan teknologi nano. Menuju masa depan, ketiga jenis teknologi ini dapat disatukan dalam bingkai pengupayaan teknologi pertanian yang lebih mumpuni.

Teknologi hayati memberikan kontribusi penting pada budidaya varietas yang diharapkan bermuara pada lahirnya produk pertanian yang semakin unggul. Sementara itu, teknologi nano dapat diaplikasikan dalam bemacam desain mesin-mesin pertanian yang canggih. Seperti diketahui, teknologi nano adalah tahapan paling aktual dari rekayasa manusia atas susunan atom. Kata nano diserap dari istilah nanometer yang berarti sepermiliar meter (10 pangkat minus 9). Teknologi ini menumpukan perkembangannya pada produksi mesin-mesin canggih berdimensi sangat kecil. Ide nanometer berkembang dari ceramah Richard Feyman, peraih Nobel Fisika pada 1959. Menurutnya, materi dapat disusun atau diubah dengan memanipulasi atom-atom pembentuk materi.

Formulasi ini dapat dikawal rigid dengan reputasi oleh kaum Nano-Agraris. Maksudnya, kalangan yang permanen berurusan dengan pengembangan teknologi pertanian berbasis teknologi hayati dan teknologi nano, juga teknologi informasi. Kelompok tersebut membidani langsung peningkatan kualitas produk pertanian, serta distribusi dan pemasarannya.

Mereka tentu tak harus seberang gerakan Kiri Baru (new left), yang terlebih dahulu mempersoalkan dominasi pasar dan hegemoni negara atas praktik ekonomi yang ada. Tak perlu ada boikot, revolusi, nasionalisasi, atau mogok nasional. Kaum Nano-Agraris lebih diorientasikan pada penemuan daya saing yang tinggi melalui jaringan teknologi, hingga kemudian dapat bersaing dengan produk-produk pertanian asing, yang seringnya lebih didukung oleh regulasi ketat atau monopoli. Bukankah Eropa dan AS bisa sangat kaya, lantaran penciptaan ketergantungan yang sangat pada teknologi kreasi mereka? Jadi, bila kebutuhan akan teknologi itu dapat dipenuhi di sini, tentu bukan hal sulit bila harus menaklukkan pasar pertanian dunia.

Begitulah, mental unggul diperlukan untuk berkompetisi dengan dunia yang terkadang, tidak jujur dan penuh intoleransi. Hatta yang lebih memilih pulang daripada mengabdi pada Eropa di zamannya, dan berdampak pada kekurangkomplitan hidupnya, tidak lantas membuatnya memaksakan sepatu yang ia idam-idamkan. Ada upaya mendahulukan kepentingan yang lebih besar, tanpa melupakan keinginan pribadi untuk turut berbahagia. Sebab, bagaimana mungkin seseorang bisa memberikan yang terbaik bagi banyak orang, bila keadaan dirinya tidak sepantar dikategorikan sebagai sosok yang bahagia? Bahagia yang lahir atas dedikasi.

Atau kita sederhanakan saja bahwa bisa jadi, apple computers lahir karena ada keeratan filosofi antara pertanian dan teknologi. Itu sebabnya, lambang dan nama apel dipilih untuk memproduksi komputer. Nah! Wallahu a’lam.